intelektual alternatives

PENDEKATAN NON POSITIVISTIK TEORI EVOLUSI PARADIGMA THOMAS KHUNpemikiran thomas kuhn


PENDAHULUAN

Masih segar dalam benak kita akan adanya shifting paradigms dalam wacana logika dan metafisika. Pemikiran logika telah berkembang dari logika formal Aristoteles, logika matematika Descartes, logika transcendental Kant, hingga logika simbolik Pierce. Dalam metafisika juga terjadi letupan ide-ide dari being qua being (rasionalisme), being as a perceived being (empirisme), being nothing and becoming (fenomonologi), being and time (eksistensialisme), hingga being as process (pragmatisme).

Munculnya sebuah buku “Structure of Scientific Revolutions” pada tahun 1962, yang dikreasi oleh seorang tokoh yang dilahirkan di Cincinnati, Ohaio. Dia adalah Thomas Kuhn. Pada tahun 1922 Kuhn belajar Fisika di Havard University, kemudian melanjutkan studinya di pascasarjana, dan memutuskan pindah ke bidang sejarah ilmu.
“Structure of Scientific Revolutions”, banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu. Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu itu bersifat linier-akumulatif, maka tidak demikian halnya dalam penglihatan Kuhn.
Menurut kuhn, ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal dan kemudian “membusuk” karena telah digantikan oleh ilmu atau paradigma baru.

Demikian selanjutnya. Paradigma baru mengancam paradigma lama yang sebelumnya juga menjadi paradigma baru.

Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan (epistemologi), paradigma epistemologi positivistik telah mengakar kuat selama berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya setelah sekitar dua atau tiga dasawarsa terakhir ini muncul perkembangan baru dalam filsafat ilmu pengetahuan sebagai bentuk upaya pendobrakan atas teori-teori yang lama. Pendobrakan atas filsafat ilmu pengetahuan positivistik ini dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti: Thomas Kuhn, Stepehen Toulmin, serta Imre Lakatos. Ciri khas yang membedakan model filsafat ilmu baru ini dengan model-model terdahulu adalah adanya perhatian besar terhadap sejarah ilmu dan peranan ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengonstruksikan bentuk ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Sejarah ilmu pada dasarnya merupakan disiplin ilmu yang relayif masih baru. Pada awal perkembangannya, bidang ini ditangani dan dikembangkan oleh ahli-ahli dari bidang ilmu lainnya, seperti ahli fisika. Thomas Kuhn sendiri dengan latar belakang orang fisika mencoba memberikan wacana tentang sejarah ilmu ini sebagai starting point dan kacamata utama dalam menyoroti permasalahan-permasalahan fundamental dalam epistemologi yang selama ini masih menjadi teka-teki.

Dengan kejernihan dan kecerdasan pikirannya, ia menegaskan bahwa sains pada dasarnya lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya.

Dengan konsep pemikirannya ini, Thomas Kuhn tidak hanya sekedar memberikan kontribusi besar dalam sejarah dan filsafat ilmu, tetapi lebih dari itu, dia telah menggagas teori-teori yang mempunyai implikasi luas dalam ilmu-ilmu sosial, seni, politik, pendidikan bahkan ilmu-ilmu keagamaan dll.

 

PEMBAHASAN

 

Pemikiran Thomas Kuhn

 

Istilah paradigma menjadi begitu popular setelah diintroduksikan oleh ThomasKuhn melalui bukunya The Structure of Scientific Revolution,University of ChicagoPress, Chicago,1962 yang membicarakan tentang Filsafat Sains. Khun menjelaskan bahwa Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metode-metode,prinsip dasar atau memecahkan sesuatu masalah yang dianut oleh suatu masyarakatilmiah pada suatu tertentu. Apabila suatu cara pandang tertentu mendapat tantangandari luar atau mengalami krisis (“anomalies”), kepercayaan terhadap cara pandangtersebut menjadi luntur, dan cara pandang yang demikian menjadi kurang berwibawa,pada saat itulah menjadi pertanda telah terjadi pergeseran paradigma. Untuk lebihjelasnya berikut diuraikan beberapa pemikiran penting dari Thomas Kuhn, yakni:1. Thomas Kuhn bertitik tolak dari subject to subject  dalam karya bukunya yangberjudul: “The Structure of Scientific Revolutions” (1962), yang mengemukakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadisecara kumulatif melainkan terjadi secara relatif. Model perkembangan ilmupengetahuan menurut Kuhn adalah: Paradigma I( Normal Science,Anomalies &Crisis,Revolusi)

Paradigma I

Normal Science

Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) setelah menulis panjang lebar tentang sejarah ilmu pengetahuan, dan mengembangkan beberapa gagasan penting dalam filsafat ilmu pengetahuan. Ia paling terkenal karena bukunya The Structure of Scientific Revolutions di mana ia menyampaikan gagasan bahwa sains tidak “berkembang secara bertahap menuju kebenaran”, tapi malah mengalami revolusi periodik yang dia sebut pergeseran paradigma. Analisis Kuhn tentang sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan kepadanya bahwa praktek ilmu datang dalam tiga fase; yaitu:

Tahap pertama, tahap pra-ilmiah, yang mengalami hanya sekali dimana tidak ada konsensus tentang teori apapun. penjelasan Fase ini umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak sesuai dan tidak lengkap. Akhirnya salah satu dari teori ini “menang”.

Tahap kedua, Normal Science. Seorang ilmuwan yang bekerja dalam fase ini memiliki teori override (kumpulan teori) yang oleh Kuhn disebut sebagai paradigma. Dalam ilmu pengetahuan normal, tugas ilmuwan adalah rumit, memperluas, dan lebih membenarkan paradigma. Akhirnya, bagaimanapun, masalah muncul, dan teori ini diubah dalam ad hoc cara untuk mengakomodasi bukti eksperimental yang mungkin tampaknya bertentangan dengan teori asli. Akhirnya, teori penjelasan saat ini gagal untuk menjelaskan beberapa fenomena atau kelompok daripadanya, dan seseorang mengusulkan penggantian atau redefinisi dari teori ini.

Tahap ketiga, pergeseran paradigma, mengantar pada periode baru ilmu pengetahuan revolusioner. Kuhn percaya bahwa semua bidang ilmiah melalui pergeseran paradigma ini berkali-kali, seperti teori-teori baru menggantikan yang lama.

Menurut Kuhn, ilmu sebelum dan sesudah pergeseran paradigma begitu jauh berbeda melihat teori-teori mereka yang tak tertandingi – pergeseran paradigma tidak hanya mengubah satu teori, hal itu akan mengubah cara bahwa kata-kata yang didefinisikan, cara para ilmuwan melihat mereka subjek, dan mungkin yang paling penting pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sah, dan aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan kebenaran suatu teori tertentu.

 

Anomali dan munculnya penemuan baru (krisis)

Data anomali berperan besar dalam memunculkan sebuah penemuan baru yang diawali dengan kegiatan ilmiah. Dalam keterkaitan ini, Kuhn menguraikan 2 macam kegiatan ilmiah yaitu: Puzzle solving

Dalam puzzle solving, para ilmuan membuat percobaan dan mengadakan observasi yang tujuannya untuk memcahkan teka-teki, bukan mencari kebenaran. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah berefek konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan/dimunculkan.Penemuan paradigma baru

Penemuan baru bukanlah peristiwa-peristiwa terasing, melainkan episode-episode yang diperluas dengan struktur yang berulang secara teratur. Penemuan diawali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal. Kemudian ia berlanjut dengan eksplorasi yang sedikit banyak diperluas pada wilayah anomali. Dan ia hanya berakhir jika teori atau paradigma itu telah disesuaikan sehingga yang menyimpang itu menjadi yang diharapkan. Jadi, intinya bahwa dalam penemuan baru harus ada penyesuaian antara fakta dengan teori yang baru. Dari teori ini Thomas Kuhn memberikan definisi yang berbeda antara discovery dan invention. Yang dimaksud discovery adalah kebaruan faktual (penemuan), sedang invention adalah kebaruan teori (penciptaan) yang mana keduanya saling terjalin erat satu sama lain

Revolusi Ilmiah

Pada uraian diatas telah saya singgung tentang revolusi sains (revolusi ilmiah) yang muncul karena adanya anomali dalam riset ilmiah yang dirasakan semakin parah, dan munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma yang dijadikan sebagai referensi riset. Revolusi sains disini merupakan sebuah episode perkembangan non-kumulatif yang didalamnya terangkum sebuah paradigma lama yang diganti sebagian atau keseluruhan dengan paradigma baru (yang bertentangan). Adanya revolusi sains bukanlah hal yang berjalan mulus tanpa hambatan, namun kerap kali ada pro-kontra serta gesekan-gesekan dari masyarakat yang menyertainya.

Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar baku melainkan hanyalah menyesuaikan diri terhadap persetujuan masyarakat. Adanya revolusi sains dengan berbagai teori argumentatifnya akan membentuk masyarakat sains. Oleh karena itu, permasalahan paradigma / munculnya paradigma baru sebagai akibat dari revolusi sains tiada lain hanyalah sebuah konsensus atau kesepakatan yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan akademisi atau masyarakat itu sendiri. Sejauh mana paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka disitulah revolusi sains (revolusi ilmiah) akan terwujud. Selama proses revolusi, para ilmuan melihat hal-hal baru dan berbeda dengan ketika menggunakan instrument-instrument yang sangat dikenalnya untuk melihat tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Seakan-akan masyarakat professional itu tiba-tiba dipindahkan ke daerah lain dimana objek-objek yang sangat dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan objek-objek yang tidak dikenal. Kalaupun ada ilmuan atau sebagian kecil ilmuan yang tidak mau menerima paradigma yang baru sebagai landasan risetnya, dan ia tetap bertahan pada paradigma yang telah dibongkar yang sudah tidak mendapat legitimasi dari masyarakat sains, maka aktifitas-aktifitas risetnya hanya merupakan taitologi yang tidak nermanfaat sama sekali. Inilah yang dinamakan perlunya revolusi ilmiah.

Paradigma II.

Menurut Kuhn bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi olehsuatu paradigma tertentu, yaitu suatu pandangan yang mendasar tentang apayang menjadi pokok persoalan (subject matter ) dari suatu cabang ilmu.Paradigma tersebut akan berkembang dalam masa normal science yaitu suatu  periode akumulasi ilmu pengetahuan dimana para ilmuwan bekerja danmengembangkan paradigma yang sedang berpengaruh. Tidak mampunyaparadigma tersebut dalam menjawab berbagai persoalan secara memadai,maka terjadinya pertentangan dan penyimpangan yang terjadi (anomalies) danmemuncak menjadi suatu krisis yang menyangsikan paradigma yangdibangun pertama tadi.pabila krisis sudah sedemikian hebatnya, maka suaturevolusi akan terjadi dan muncullah paradigma baru yang dianggap mampumenyelesaikan persoalan yang terjadi.3. Menurut Kuhn bahwa pendekatan ilmu tidak secara internal (seperti ajaranPositivisme) dan Rasionalisme Kritikal (ajaran Karl Popper), akan tetapisecara eksternal dengan bertolak dari suatu paradigma tertentu yang menjadilandasan dasar disiplin ilmu itu yang akan terjadi bukan Evolusi Ilmiah akantetapi Revolusi ilmiah. Paradigma yang ada akan digantikan oleh paradigmabaru tanpa mengandung unsur-unsur paradigma yang lama.

Menurut Kuhn, secara manusiawi maka seseorang tidak akan mau untuk menjatuhkan teori yang dibangunnya sendiri, tetapi justru akanmempertahankannya sehingga munculah silang pendapat dan polemik.Selanjutnya teori itu bukan dilemahkan oleh fakta-fakta, tetapi diamati dandiinterpretasi mengacu pada paradigmanya yang relasi inti bukan subjek-objek tetapi subjek-subjek. 

Pemikiran Thomas Kuhn juga timbul atas kritikan terhadap ungkapan Karl R.Propper yang berkaitan dengan falsifikasi yang dilakukannya oleh diri sendiri.Menurut logika yang dibangun Kuhn, thesis Popper bahwa grounded theoryyang dibangun, diciptakan dari hasil penemuan secara induktif fakta-faktautama baru tidak mungkin membangun grand theory sebagai pernyataan-pernyataan universal masih bisa diperdebatkan bahkan bisa ditolak.

KESIMPULAN

Paradigma ialah apa yang akan kita paparkan dari pengujian perilaku anggota-anggota masyarakat ilmiah yang telah ditentukan sebelumnya.Paradigma dipakai sebagai keseluruhan konstelasi keyakinan, nilai, teknik, dan lain-lain yang telah dilakukan anggota-anggota masyarakat yang telah diakui.Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa sains normal, dimana para ilmuan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkannya secara terperinci dan mendalam, karena disibukkan dengan hal-hal yang mendasar. Pada Sains normal “memberi arti secara tegas penelitian yang berdasarkan satu atau lebih melewati prestasi ilmiah, prestasi bahwa komunitas ilmiah tertentu mengakui untuk sementara waktu sebagai menyediakan dasar untuk berlatih lebih lanjut”. Dalam tahapan ini, seorang ilmuan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiahnya, dan selama menjalankan riset ini, ilmuan bisa menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya.Inilah yang disebut dengan anomali. Dalam konsep paradigma membantu komunitas ilmiah untuk mengikat disiplin mereka dalam membantu para ilmuwan untuk : membuat jalan penyelidikan. Merumuskan pertanyaan,Memilih metode yang digunakan untuk memeriksa pertanyaan-pertanyaan,Mendefinisikan bidang relevansi,Membangun / menciptakan makna.

Sebuah paradigma membimbing seluruh kelompok riset, dan inilah kriteria yang paling jelas menyatakan bidang ilmu. Berbagai transformasi paradigma adalah bagian fari revolusi sains, sedangkan transisi yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lain melalui revolusi adalah pengembangan yang biasa dan sains yang telah matang.

Melihat pengembangan epistemologi dari Thomas Kuhn diatas terutama dalam diversifikasi dalam pengkajian agama Islam sebagai contoh adalah masalah tafsir al-Qur’an yang begitu prinsip; tentunya revolusi ilmiah yang telah dikembangkan Thomas Kuhn telah membawa perubahann besar dalam peradaban manusia dan Islam. Kuhn telah menarik fakta bahwa para filosof ilmu pada umumnya tidak menghiraukan persoalan hermeneutik yang pokok seperti persoalan tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang ilmuan.Menurut Kuhn rasioanalitas ilmiah yang sebetulnya ambigu itu pada dasarnya bukanlah semata-mata perkara induksi atau deduksi atau juga rasioanalits objektif, melainkan lebih pada perkara interpretasi (hermeneutis) dan persuasi yang cenderung lebih bersifat subjektif.

Oleh karena itu, segala yang dikatakan ilmu tentang dunia dan kenyataan sebetulnya terkait erat dengan paradigma dan model atau skema interpretasi tertentu yang digunakan oleh ilmuannya. Cara ilmuan memandang dunia menentukan dunia macam apa yang dilihatnya. Jadi pengetahuan bukanlah foto kopi dari sebuah realitas, melainkan realitas hasil kontruksi manusia. Dan paradigma yang mendasari konstruksi itu diterima dan dipercayai komunitas para ilmuan, bukan karena para ilmuan itu tahu bahwa itu benar, melainkan karena mereka percaya bahwa itu yang terbaik, yang paling member kemaslahatan dan harapan bila digunakan untuk riset dan penelitian selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

E.Sumaryono, Hermeneuti sebuah Metode filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999)

Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Quran, (Bandung: Pustaka, 1983)

Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta Bulan Bintang, 1973)

M. Amin Abdullah, Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan,
2002)

Muhammad Azhar, Fiqh Kontemporer dalam Pandangan Neomodernisme Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

Thomas S.Kuhn,The Structure of Scientific Revolutions, (Chicago: The University of Chicago Press, 1970),

Verhak dan Imam R.Haryono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Gramedia, 1989)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: